Tampilkan postingan dengan label dosen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosen. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2013

Disiplin

Temans smua pasti sudah sering dengar istilah "Inovasi", dan sdh punya gambaran masing2 ttg inovasi tersebut. Ya silahkan, monggo kerso, ndak papa, wong lagian yg sy obrolkan skrg ini bukan ttg pengertian inovasi, tp lbh ke arah pelaksanaan dr inovasi itu sendiri. Simpelnya, eksen..eksen...
Sebelumnya, saya perlu bercerita sekilas ttg saya dulu, terutama ttg pekerjaan saya. Pekerjaan saya adalah dosen. Dosen sebagaimana profesi guru, selain pengajar, saya juga bertindak sebagai pendidik.
Lo emang beda antara pengajar dengan pendidik? Ya beda dong. Kalau pengajar itu hanya sebatas pada mengajarkan materi kuliah saja. Sedangkan pendidik lebih mengarah pada pengembangan karakter, mentalitas mahasiswa. Salah satu tema "pendidikan" yg seringkali diberikan oleh smua teman2 dosen adalah disiplin waktu, dlm arti sederhananya, masuk kelas tepat waktu, tidak terlambat.
Nah untuk mendidik mahasiswa ttg disiplin waktu, dosen menggunakan cara yg berbeda-beda.  Ada yg pake model kontrak awal kuliah, smacam MoU yg d dlmnya termuat sgala peraturan yg akan berlaku bagi smua anggota kelas, tak terkecuali dosen itu sendiri
Na di sinilah cerita saya ttg inovasi tadi. Terkait disiplin waktu masuk kelas, saya awalnya memang membebaskan teman2 mahasiswa, dalam arti begini,
"masuk 1 jam sebelum selesai, silahkan. Masuk 30 menit sblm selesai kuliah, yo ndak papa. Masuk 5 menit sblm selesai kuliah, yo sak karep2mu. Lo lak wes penak to??dan yang saya minta pun cukup satu, kepada mahasiswa saya, tolong kembalikan motivasi anda, anda kuliah itu mau ngapain? Cari ilmu ato cari pacar? Ato yg lain?"
Simpel pooll. Tidak ada unsur paksaan, tidak kenceng2an, biasa, tapi cukup mengena kata2nya..
Dan Alhamdulillah, ternyata teman2 mahasiswa merespon positif, tingkat keterlambatan di kelas saya rendah :). Dan selama beberapa waktu, saya cukup enjoy dengan kondisi tersebut, memang ada bbrp mhsiswa yg terlambat, tapi cuma 5-6 org saja. Tapi lama2 kok mahasiswa mulai banyak yg terlambat dan cenderung abai. saya pun berpikir bahwa tingkat keterlambatan masuk kelas ini bisa di tekan lagi.
Kata Einsten: kita tak bisa memberikan solusi sekarang untuk masalah yg baru.
Lalu model motivasi kuliah pun saya ganti. Yang baru lagi. Sekarang setiap mahasiswa yg telat masuk lbh dr 15 menit saya wajibkan nyanyi dulu. Tujuan saya memberikan efek jera + malu bagi yg terlambat :)
Kalau sudah d pull tdk bisa, maka kudu di push..

Senin, 06 Juni 2011

Dosen Ngawur...

Assalamualaikum Mas bro mas bro..gimana kabaripun? Can’t better more? Wow that’s great…

Sudah lama saya ndak menulis artikel di blog saya ini, mohon maaf, lamaa buanget memang, ya kira2 satu semingguan ya, hehe, kalo ditanya alasannya kenapa? Ya beberapa hari terakhir, saya mulai bimbang dengan model atau gaya penulisan blog saya ini, saya bertanya2 kepada diri saya sendiri, pantes gak sih gaya bahasa yang saya pilih dengan tema tulisannya? pantes gak sih gaya bahasa saya dengan sasaran/konsumen saya yang dalam hal ini adalah para mahasiswa, dan bahkan mungkin temen2 sesama dosen (khusus untuk dosen, saya yakin bahwa kalo sampai beliau2 ini masuk ke blog saya, ya berarti beliau2 lagi kesasar optimal, pol-polan he, karena masih banyak blog lain dengan content yang lebih bagus, kok ya mau2nya mengunjungi blog saya he).

Selain itu, sebetulnya saya juga ragu dengan pemberian nama “artikel” untuk tulisan saya ini, karena saya menilai bahwa tulisan saya bukan sebuah artikel, dan tidak pantas disebut artikel, lebih sebagai cuap-cuap, sekedar ngobrol kepada teman yang butuh kejelasan dan kebetulan saya mampu menjelaskan, istilah kerennya, ya just conversation sajalah….J.  Ya temen2 pasti tahu sendiri, bagaimana gaya tulisan saya yang multilingual (maksudnya, ya Indonesia, ya jawa, ya Indonesia yang njawani, ya English yang njawani dan bahkan kadang kalo mentok pake bahasa isyarat juga he) dan cenderung tidak fokus, yang kalo orang jawa bilang mblakrak ke mana2..

Dan yang lebih gawatnya lagi, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa saya tidak aken mengubah/membenahi gaya bahasa tulisan saya. Lohh kok??, kok gitu?? Wong sudah jelas di depan, anda mengatakan banyak sekali kekurangan pada gaya bahasa anda, tapi kok tetap tidak mau membenahi?...

Ya karena saya percaya bahwa dunia pendidikan sekarang sudah semakin horizontal, posisi dosen dan mahasiswa mulai sejajar, yang kalau diibaratkan garis, maka garis yang awalnya vertical (dosen diatas, mahasiswa di bawah) mulai berubah menjadi horizontal, dosen dan mahasiswa sudah hampir tidak ada gap lagi. Dalam mencari informasi atau ilmu, mahasiswa sudah tidak hanya bergantung pada dosen saja, mereka bisa browsing, connected dgn teman2nya, lebih kreatif dalam menghadapi masalah, dst. Dalam berhubungan antara dosen-mahasiswa pun guampangnya bukan main. Bisa lewat Facebook, twitter, bisa lewat blog-blog pribadi milik dosen, dari pengamatan saya, teman2 dosen saya juga sudah memiliki blog pribadi dan blog tersebut benar2 dimanfaatkan dengan maksimal, mulai penulisan artikel, penjelasan tentang bab, bahkan sampai UTS dan UAS juga modelnya online, sifatnya real-time (dan saya pun juga sedang mengarah ke sana juga hehe)…

Hal yang paling berpengaruh terhadap perubahan perilaku ini adalah perkembangan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi. Hermawan Kartajaya mengatakan sedang terjadi reshaping in Marketing World, dimana para produsen/marketer sudah mulai menata mindset mereka bahwa konsumen mereka sesungguhnya adalah patner mereka, so lagi2 semakin horizontal, masing-masing punya peran yang sama-sama penting, tidak lagi menganggap konsumen dianggap sebagai sekedar sapi perah, yang diambil uangnya saja, tapi juga dianggap sebagai teman, patner. Rhenald Kasali juga mengatakan bahwa generasi yang sedang di hadapi oleh semua pihak yang berkepentingan saat ini adalah generasi C (atau biasa disingkat Gen-C) C berarti connected, co-creation, creative, dan curiousity. Inilah generasi yang terhubung satu dengan yang lain.

beliau memberikan contoh bahwa selama ini asumsi kita menganggap bahwa dokter adalah ahli dan cerdas. Sedangkan pasiennya, secara medis bodoh. Situasinya selalu begini: Dokter menunggu di ruang prakteknya dan pasien-pasien itu terisolasi satu dengan lainnya. Masalahnya, sekarang asumsi itu sudah tidak valid. Pasien terhubung dan melakukan sharing. Situs-situs lokal mempertemukan pasien-pasien berbagi pengalaman. Di luar negeri situs PatientsLikeMe.com sangat digemari dan pasien bebas berkonsultasi free of charge.

Di situs Video Youtube Anda juga bisa menemukan berbagai advice dari dokter-dokter terkenal secara visual. Ada Dr. Vincent Bellonzi yang mengingatkan, agar jangan menyerahkan tubuh kita 100% pada dokter saja. Konsultasikanlah resep pada apoteker. Begitu nasehat dokter senior yang terkenal itu. So kalo dicermati lagi, bukankah hampir sama antara situasi dokter-pasien dengan dosen-mahasiswa saat ini??

Nah menjadi masalah kini, asumsi-asumsi lama tentang mahasiswa sudah tidak valid lagi. Mahasiswa jelas telah berubah menjadi lebih berpengetahuan. Mereka bukan menjadi sok tahu, tetapi memang menjadi lebih tahu. Mereka juga curious atau ingin lebih tahu lagi. Apa jadinya kalau dosennya masih memegang asumsi lama, tertutup dan malas membaca perkembangan baru, menutup kritik mahasiswa dan hanya mengandalkan informasi dari buku2 tebal 200 halaman atau konferensi international?

Dosen tentu harus berubah, menjadi lebih tahu dan membagi waktu antara mengajar dan belajar lagi. Dan yang lebih penting adalah merubah pendekatan agar lebih komunikatif. Inilah yang Rhenald Kasali sebut sebagai daya saing, yaitu lebih produktif dalam menghadapi persaingan. ini juga yang mendasari kenapa saya memilih bahasa slank dalam artikel saya....